Jurusan Arsitektur Ikuti Pameran dan Seminar 60 Tahun Pendidikan Arsitektur Indonesia

Kiprah Jurusan Arsitektur untuk terus mengembangkan diri dibuktikan dengan peran sertanya di dalam Pameran dan Seminar 60 Tahun Pendidikan Arsitektur yang diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung. Kegiatan berparas nasisonal yang diselenggarakan pada hari Sabtu 16 Oktober 2010 baru-baru ini menghimpun beberapa kegiatan diantaranya Seminar Nasional, Pameran, Peluncuran Buku, dan Temu Alumni. Pada kesempatan itu Jurusan Arsitektur UII berkontribusi sebagai peserta pameran karya tugas akhir dan menjadi pembicara pada Seminar Nasional.

Dalam Seminar Nasional 60 tahun Pendidikan Arsitektur, Professor Loughlin Kealy dari University College Dublin, Irlandia yang merupakan wakil dari Council of the European Association for Architectural Education (EAAE) dan bertindak sebagai keynote speaker, mengungkapkan adanya perubahan besar di Pendidikan arsitektur di Eropa. Hal ini karena adanya kebijakan antar negara Uni Eropa yang dikenal sebagai Bologna Accord. Bahkan simpulnya, pendidikan arsitektur di Eropa sedang dalam masa transformasi yang dipenuhi dengan ‘turbulensi dan kreatifitas’. Baginya sikap keberanian untuk berubah harus terjadi karena ‘lansekap’ persoalan dan tantangannya juga sudah demikian berubah. Paling tidak ada empat persoalan besar yaitu orientasi menuju kolaborasi antar bidang dan peran arsitek yang semakin sulit dikerangkakan secara konvensional, ‘knowledge economy’ yang saat ini menjadi panglima dan responnya melalui agenda riset di universitas serta dunia digital yang mengubah berbagai kebiasaan termasuk di dalamnya tradisi kultur studio di banyak sekolah arsitektur.Dalam seminar tersebut dibicarakan pula arah kebijakan nasional yang menuju pada ‘university-led development’. Ir. Ary Mochtar Pedju yang juga pendiri PT. Encona, mengemukakan bahwa ujung tombak perkembangan saat ini seharusnya bukanlah pemerintah atau industri saja melainkan justru universitas melalui program-program studi dan laboratoriumnya yang lintas bidang sebagai pemroduksi pengetahuan. “Mereka harus menghasilkan firma-firma yang berfungsi sebagai field-laboratory yang akan mendiseminasikan pengetahuan kepada masyarakat dan pada akhirnya akan mengembalikan pengetahuan itu ke universitas sebagai feedback” ungkapnya.

Di bagian sesi paralel, Dr. Ing. Ilya Maharika, IAI turut memberikan kontribusi sebagai wakil dari UII. Ilya mempresentasikan proses pelaksanaan pembelajaran studio berbasis kolaborasi yang memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk mengerjakan proyek perancangan secara bersama dan secara langsung berinteraksi dengan disiplin selingkung (teknik sipil, teknik lingkungan, teknik elektro dan mekanikal). Model pembelajaran ini, bersama studio kolaborasi antar perguruan tinggi yang dikenalkan oleh ITB, diapresiasi sebagai ‘wacana baru’ yang dapat menjadi alternatif mundurnya kultur studio yang melanda banyak sekolah arsitektur saat ini.

Di bagian lain, Jurusan Arsitektur juga berkontribusi dalam pameran karya tugas akhir. Di sini, UII menampilkan 7 karya mahasiswa terbaik yang dijajar bersama dengan karya-karya mahasiswa dari universitas besar lainnya seperti ITB, UI, UGM, dan Parahyangan. Karya-karya mereka menunjukkan kualitas yang tidak kalah bahkan mampu menunjukkan ciri yang kuat dan menunjukkan inovasi pemikiran yang tajam dan mendasar.

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *