Land Art

Kuliah umum mata kuliah Studio Desain 1 dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Oktober 2021 melalui zoom membahas tentang Land Art. Di dalam kuliah umum ini, pembicara membahas bagaimana hubungan Land Art dengan seni, alam, dan landscape. Land Art merupakan bentuk seni yang diciptakan di alam yang menggunakan bahan alami seperti tanah, batu-batuan, media organik (kayu, batang, cabang, daun) dan air dengan material tambahan seperti beton, logam, aspal, atau mineral pigmen.

Land Art terinspirasi oleh seni minimal dan seni konseptual tetapi juga oleh gerakan modern seperti De StijlKubismeminimalis dan karya Constantin Brâncuși dan Joseph Beuys. Banyak seniman Land Art telah terlibat dengan seni minimal dan seni konseptual. Dalam pembuatan Land Art terdapat proses imajinatif untuk menentukan bentuk dari Land Art, bisa dimulai dengan mensketsakan proses, menentukan tema atau konsep dan melakukan eksplorasi desain.

Sustainability Issues in a Global Context and The Concept of Green Architecture

Penyelenggaraan Kuliah Umum oleh Laboratorium Teknologi Kinerja Bangunan, Jurusan Arsitektur Fakultas Tehnik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia. Jum’at, 1 Oktober 2021 Kuliah Umum mata kuliah Architecture Design Studio 3 yang dimoderatori oleh Assoc. Prof. Dr. Ir. Sugini, MT., IAI., GP menyapa lebih dari 170 mahasiswa melalui Zoom. Kuliah umum mengangkat tema “Sustainability Issues in a Global Context and The Concept of Green Architecture” dengan menggaet Bapak Jarot Prasetyo S.T., GP sebagai Narasumber.

Jarot Prasetyo, S.T., GP juga merupakan alumni dari Arsitektur Universitas Islam Indonesia yang sudah cukup ekspert menjadi salah satu andalan dari pakar Greens Building dan menjadi orang kepercayaan pakar Building tools di GBCI. Tema “Sustainability Issues in a Global Context and The Concept of Green Architecture” akan menjadi materi penting para mahasiswa untuk mempertajam tema, yang nantinya penajaman bervariasi tergantung pemilihan lokasi.

Dengan kuliah umum ini Jarot Prasetyo ingin menanamkan kepada mahasiswa arsitektur UII, apa pentingnya kita merawat, melestarikan bumi kita tercinta ini. “Saat ini bumi kita sudah sangat rentan dan sudah tua, Factor perubahan iklim yaitu efek gas rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, kerusakan fungsi hutan, penggunaan chlorofluorocarbon (CFC) yang tidak terkontrol dan gas buang industry.” ungakap Jarot.

Dalam sesi tanya jawab, ada pertanyaan dari peserta yang menanyakan “material bangunan tinggi jika saya lihat kebanyakan menggunakan material kaca namun penggunaan kaca dapat meningkatkan urban heat island. Apakah ada alternatif material untuk bangunan tinggi pada fasad bangunan yang lebih ramah lingkungan?” Jarot Prasetyo mencoba menjawab, kaca sekarang sudah menggunakan tehnolog terkini, untuk efek urban heat island, kaca memantulkan cahayanya itu sendiri ke bagian lain ataupun ke atas, keatas pemanasan global, ke bawah menimbulkan efek glar pada orang yang melihatnya.

Kaca yang sekarang itu, ada kaca yang menyerap panas, jadi tidak memberikan efek panas pada bangunan dan kaca itu juga tidak memantulkan sinarnya secara full. “Teknologi apa lagi selain kaca, digunakan Wall Window to Ratio yaitu perhitungan antara dinding massif dengan dengan jendela itu diperhitungkan kemudian dan juga dilihat dari arah mata angin, apabila mendisain bangunan letak jendela tidak di timur ataupun barat, posisinya yaitu di utara ataupun selatan yang diposisi tersebut juga adanya angin sehingga bisa menghemat penggunaan AC”. pungkas Jarot Prasetyo. (NH-Oj)

Sketch and Experiencing Nature

Selasa, 5 Oktober 2021 kuliah umum Studio Desain 1 membahas tentang “Sketch and Experiencing Nature” yang dibawakan oleh Hanif Budiman, Ph.D. Dalam mata kuliah ini pembicara mengajak para mahasiswa untuk memaknai  dan melihat lingkungan sekitar sebagai tantangan dalam melatih mengembangkan sensitifitas nilai-nilai keindahan.

Sketsa dalam kegiatan pembelajaran secara umum memberikan keseimbangan antara seluruh sensor-sensor yang ada dalam tubuh bergerak dan tumbuh secara utuh. Tahap pemikiran dalam desain arsitektur yang dapat dilakukan dengan sketsa. Pertama ada observasi, dengan observasi kita bisa mendapat catatan tambahan dengan persepsi visual dan bentuk. Kedua sketsa imajinatif, sketsa ini bersifat bebas dan tidak memiliki patokan khusus. Ketiga ada sketsa representatif, merupakan sketsa untuk menjelaskan gagasan-gagasan yang solutif yang bisa digambarkan dengan diagram, simbol, atau anak panah.

Participatory Design Practices in Public Facilities

Kuliah umum kedua mata kuliah Desain Studio Arsitektur 1 (Architectural Design Studio 1) dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Oktober 2021. Pembicara kuliah umum kedua ini adalah Sigit Kusumawijaya, M.Sc., IAI, GP merupakan seorang arsitek yang aktif dalam bidang urban designer asal Jakarta.

Di dalam kuliah umum, pembicara banyak memaparkan tentang Participatory Design Practices in Public Facilities. Beliau memberi contoh kasus participatory dalam tahapan perencanaan Taman Maju Bersama yang ada di Jakarta. Pada tahapan perencanaan, arsitek bersama warga merumuskan tujuan dan solusi bersama. Perlu ada konsultasi bersama warga secara berkala untuk mendapatkan tujuan perancangan yang baik. Setelah itu dilakukan penyempurnaan desain yang kemudian dikonsultasikan kembali bersama warga untuk mendapat desain akhir.

Participatory Design and Place Making Theories

Rabu, 29 September 2021 Lab Reka Rupa Ruang mengadakan kuliah umum mata kuliah Studio Desain Arsitektur 1 (Architectural Design Studio 1). Pembicara kuliah umum ADS1 kali ini adalah Faiz Hamdi Suprahman, MA yang merupakan lulusan China Academy of Art di Hangzhou, China.

Dalam kuliah umum, pembicara membahas tentang Participatory Design and Place Making Theories. Dalam pembahasannya, beliau mengemukakan tiga model proses desain antara lain intuitive method, rational/problem solving method, dan the participatory model.

Pembicara mengemukakan bahwa Participation Design adalah proses interaksi pendekatan warga atau pengguna untuk memiliki andil dalam desain dengan merumuskan masalah dan mencari solusi bersama.

Pengantar Kuliah Adicita Rancang Ruang

Kuliah umum mata kuliah Adicita Rancang Ruang (Breadth on Place Making) yang di laksanakan pada hari Senin, 27 September 2021 untuk mahasiswa reguler dan Kamis, 30 September 2021 untuk mahasiswa IP. Kepala Lab Reka Rupa Ruang, M. Galieh Gunagama, M.Sc menyapa para mahasiswa semester lima melalui zoom meeting. Kuliah umum ini membahas tentang pengenalan mata kuliah Adicita Rancang Ruang (Breadth on Place Making).

Stefy Anggraini, Ar., M.Arch. selaku koordinator pada mata kuliah Adicita Rancang Ruang memaparkan beberapa materi antara lain identitas mata kuliah, bentuk pembelajaran, capaian pembelajaran, jadwal perkuliahan, hingga produk akhir. Mata kuliah Adicita Rancang Ruang  terbilang baru di kurikulum 20.

Berikut adalah gambaran mata kuliah Adicita Rancang Ruang yang dibagi menjadi modul-modul pengetahuan. Dari setiap modul ada penilaian atau evaluasi pada Ujian Tengah Semester.

Arsitek Sebagai Pelestari Bumi

Penyelenggaraan Kulaih Perdana oleh Prodi Profesi Arsitek (PPAR) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) yang dilaksanakan pada Senin, 4 Oktober 2021 secara virtual menghadirkan sosok Ir. Bambang Eryudhawan, IAI yang kini menjabat sebagai ketua Dewan Arsitek Indonesia (DAI). Bambang adalah arsitek lulusan ITB pada tahun 1988 dengan minat pada bidang urban design, pelestarian cagar budaya dan juga sejarah. Kiprah beliau tidak diragukan lagi, pernah menjabat sebagai Ketua IAI Jakarta untuk 2 periode, Wakil Ketua II IAI Nasional, Sekretaris Majelis Kehormatan IAI Nasional dan masih banyak lagi.

Materi kuliah perdana yang dibawakan cukup dalam dengan tema pelestarian bumi, beliau mengungkapkan yang kabarnya perusak bumi adalah arsitek. “Salah tarik garis di gambar, konsekuensi di lapangan kita nggak tahu” jadi arsitek perlu paham benar tarikan garis kita bukan berdampak hanya pada kertas tapi di lapangan, tanah, bumi. Kalau kita ngawur itu merusak, tetapi kalau kita benar itu akan menambah kebahagiaan penghuni dan juga bumi kita, karena tanggung jawab sebagai arsitek itu besar.

Peran besar menyelamatkan bumi yang diemban arsitek menurut Bambang, menuntut seorang arsitek harus banyak literasi karena tantangan ke depan masyarakat yang kita hadapi hari ini kedepan adalah orang-orang yang harusnya literasi juga tinggi.