Kategori untuk menampung artikel-artikel yang sifatnya berita, dari seluruh elemen jurusan arsitektur, dan untuk membedakannya disarankan menggunakan fitur tag untuk artikel, (misal : kategorinya tetap news, tag-nya bisa bermacam-macam seperti PPAr, MArs, Tugas Akhir, dsb. )

Ketua Program Studi S1 Arsitektur UII Menjadi Narasumber di Jakarta Architecture Triennale (JAT) 2018

Ketua Program Studi S1 Arsitektur UII, Dr. Yulianto P. Prihatmaji, S.T., M.T., IAI,IPM,  menjadi salah satu narasumber dalam rangkaian acara “Jakarta Architecture Triennale (JAT) 2018”. Beliau menjadi pembicara dengan topik Technical Aspect of Floating Settlement.

Acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 12-13 Desember 2018 yang bertempat di Samisara Grandballroom, Sopo Del Tower Mega Kuningan, Jakarta. Tidak hanya mendatangkan narasumber lokal, namun narasumber mancanegara juga hadir yang akan mendiskusikan berbagai kemungkinan tentang Floating Urbanism.

Sebagai profesi yang menyumbangkan peran terbesar melalui perencanaan ruang kota dan lingkungan binaan, dapat berdampak secara langsung maupun tidak langsung. Maka dari itu, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, sebagai asosiai profesi arsitek perlu melibatkan diri dalam menciptakan hal-hal positif dan kualitas profesi dalam kegiatan tahunan Jakarta Architecture Triennale (JAT). Diharapkan dalam acara ini menjadi wadah untuk mengeksplorasi potensi maupun pemikiran-pemikiran baru bagi masa depan Arsitektur Indonesia.

Dalam acara, hadir pula beberapa mahasiswa PPAr (Pendidikan Profesi Arsitek), mahasiswa S2 Arsitektur UII, serta alumni Arsitektur UII.

Sumber : www.iai-jakarta.org

ArchitecTalk #6 : “Bencana, Desain dan Forensik”

ArchitecTalk kembali hadir dengan tema Bencana, Desain dan Forensik. ArchitecTalk #6 ini diadakan pada Kamis, 15 November 2018 di Auditorium Prof. Abdul Kahar Muzakkir UII. Pembicara yang dihadirkan kali ini yaitu Adi Purnomo, IAI dan Muhammad Amry, IAI.

Acara ini dibuka dengan sambutan Ketua Jurusan Arsitektur yaitu Pak Noor Cholid Idham, IAI. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia yaitu Pak Ahmad Syaifudin Muttaqi, IAI. Selanjutkan disambung oleh moderator yaitu Pak Suparwoko yang membuka sesi materi serta perkenalan dari pemateri.

Pada Sesi pertama, materi diberikan oleh Pak Muhammad Amry dengan fokus materi yaitu proses forensik dalam rangka kebencanaan. Beliau menuturkan, jika ingin berkecimpung dalam bidang forensik ini membutuhkan kejelian, syarat keduanya harus tekun, lalu membutuhkan ketelitian dan kewaspadaan. Dalam materinya, beliau menyimpulkan seluruh forensik yang dilakukan baik di kegagalan konstruksi, kegagalan bangunan, sengketa konstruksi, tindak pidana korupsi, dan kebencanaan baik itu non forensik dan forensik harus dilakukan studi kembali.

Pada sesi kedua, diisi oleh Pak Adi Purnomo dengan pemberian materi mengenai desain. Beliau banyak menuturkan bagaimana membangun peluang atau potensi bangunan yang lebih baik lagi.

Link materi ArchitecTalk #6 : Materi ArchitecTalk #6

Kolokium #3 !! How Green is Your Building Design

Green building brings together a vast array of practices, techniques, and skills to reduce and ultimately eliminate the impacts of buildings on the environment and human health. It often emphasizes taking advantage of renewable resources, e.g., using sunlight through passive solar, active solar, and photovoltaic equipment, and using plants and trees through green roofs, rain gardens, and reduction of rainwater run-off. Many other techniques are used, such as using low-impact building materials or using packed gravel or permeable concrete instead of conventional concrete or asphalt to enhance replenishment of ground water.

While the practices or technologies employed in green building are constantly evolving and may differ from region to region, fundamental principles persist from which the method is derived: siting and structure design efficiency, energy efficiency, water efficiency, materials efficiency, indoor environmental quality enhancement, operations and maintenance optimization and waste and toxics reduction. The essence of green building is an optimization of one or more of these principles.

So, how green is your building design? Let’s find out. 

ArchitectTalk Series#5 : “Regionalism Spirit in Global Era”

Jurusan Arsitektur UII bekerjasama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia DIY (IAI DIY) menyelenggarakan ArchitectTalk series yang kelima pada Selasa, 02 Oktober 2018. ArchitectTalk kali menghadirkan Andra Matin, seorang arsitek Indonesia yang sudah mendapatkan banyak penghargaan.

ArchitecTalk series #5 ini dibagi menjadi 2 sesi, dimana sesi pertama dikemas sebagai kuliah umum. Untuk kuliah umum disambut dengan antusias oleh mahasiswa dan praktisi arsitektur Yogyakarta. Kuliah umum ini diselenggarakan di Auditorium Prof. Dr. Abdulkahar Mudzakkir Universitas Islam Indonesia dengan tema “Regionalism Spirit in Global Area”.

Pembangunan bandara Blimbingsari di Banyuwangi menjadi topik perbincangan pada Architectalk series#5. Topik tersebut diangkat karena konsep pembangunannya yang diterapkan modern dan tidak meninggalkan nilai lokal. Beliau mengatakan bahwa bandara Banyuwangi merupakan bandara yang akan dibangun seperti resort, sehingga penggunaan AC dapat diperkecil dan memanfaatkan sirkulasi udara maksimal. Desain atap dikombinasikan dengan rumput dan kayu lilin dapat meningkatkan nilai arstitekturnya.

Ia mengatakan bahwa suasana bandara yang tidak terlalu sibuk akan memberikan suasana yang rileks bagi pengunjung dengan penambahan interior taman dan kolam di dalamnya. Kearifan lokal sangat di utamakan dalam pembangunan bandara ini.

Untuk sesi kedua, dikemas sebagai talkshow dengan tema “Bincang Arsitek”. Talkshow di selenggarakan di Auditorium FTSP Universitas Islam Indonesia. Pada sesi kali ini, dikhususkan untuk anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan mahasiswa Program Profesi Arsitek (PPAR).

Video kuliah umum dapat di lihat di youtube Department of Architecture, Universitas Islam Indonesia. Atau ArchiteckTalk Series #5.

ArchitecTalk Series#4 : “From a Highway … to Heaven?”

Tristan Siebert & Ivan Frances-Vercher

Program Profesi Arsitek (PPAr) bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia DIY (IAI DIY) menyelenggarakan ArchitecTalk series yang ke-4 pada Senin, 20 Agustus 2018. ArchitecTalk merupakan forum diskusi yang diselenggarakan secara rutin dan diselenggarakan setiap bulan dengan mendatangkan pakar dan praktisi dalam dunia arsitektur untuk berbagi cerita dan pengalaman. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa arsitektur untuk berdiskusi secara langsung dengan arsitek profesional sehingga mahasiswa mendapatkan wawasan yang lebih luas dan memberikan motivasi bagi para calon arsitek muda.

ArchitecTalk Seri#4 ini dibuka oleh wakil dekan FTSP UII Dr. Ir. Revianto Budi Santoso, M.Arch., IAI dan disambut oleh bapak Jarwa Prasetya Sih Handoko,S.T.,M.Sc., IAI, GP sebagai sekertaris Prodi Program Profesi Arsitek UII. Setelah sambutan, bapak Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, M.A mempresentasikan profil jurusan arsitektur UII secara singkat. Dalam presentasinya beliau memaparkan mengenai concern Jurusan arsitektur UII dalam menghadapi tantangan dalam dunia arsitektur di masa yang akan datang. Beliau juga meyakinkan bahwa Jurusan Arsitektur merupakan salah satu yang paling siap dalam memenuhi tuntutan industri konstruksi dan perkembangan teknologi dengan mengedepankan Building Information Modelling (BIM). 

Pada diskusi ini Program Profesi Arsitek menghadirkan dua orang narasumber yang merupakan partner dalam berarsitektur yakni Tristan Siebert & Ivan Frances-Vercher dan bapak Baritoadi Buldan Rayaganda Rito, ST, MT, IAI sebagai moderator. Duo arsitek asal Prancis ini berbagi tentang proses integrasi dalam perencanaan dan desain di Kota Strasbourg, Prancis. Cakupan diskusi fokus pada inovasi urban dan arsitektural yang ada pada kota tersebut. Tristan menyampaikan bahwa inovasi pada usulan perencanaan Kota Strasbourg menawarkan alternatif perencanaan kota dengan mengacu pada pertimbangan sistem transportasi kota. Selain itu, Kota Strasbourg memiliki banyak bangunan budaya (heritage building) yang juga dijadikan aspek penting perencanaan seperti halnya Kota Yogyakarta.

Suasana Diskusi Architectalk Series #4

Tristan memaparkan perkembangan budaya dan pola pikir masyarakat Eropa khususnya Prancis dalam melihat perkembangan transportasi. Jumlah kendaraan pribadi yang semakin meningkat berdampak pada menurunnya kualitas udara serta suhu kota. Kemacetan di jalan juga mempersulit mobilitas dan produktifitas kota itu sendiri, sehingga dalam proposal perencanaan Kota Strasbourg yang ia presentasikan lebih menekankan pada Transit Oriented Development (TOD) dimana pergerakan di pusat kota akan diakomodasi oleh kendaraan publik. Usulan ini diharapkan nantinya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Strasbourg dan mungkin juga akan bisa diimplementasikan di Yogyakarta. Selain Tristan, Ivan sebagai pakar dalam BIM memaparkan potensi BIM dalam menciptakan bangunan dengan daya performa yang tinggi.  Di akhir presentasinya Tristan dan Ivan menyampaikan sebuah cita-cita yang ia sebut dengan “From a Highway … to Heaven?”

Architectalk Series#4 dengan tema “Integrated Design and Planning” ini disambut antusias oleh pelajar dan juga praktisi arsitektur Yogyakarta. Setidaknya diskusi ini dihadiri oleh 262 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan anggota Ikatan Arsitek Indonesia. Diskusi ini berlangsung dengan sangat menarik perhatian audience dimana muncul banyak pertanyaan-pertanyaan mulai dari pentingnya merubah pola pikir masyarakat dalam kehidupan perkotaan hingga regulasi yang berlaku dalam industrik konstruksi. Diskusi ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan kenang-kenangan kepada narasumber dan juga sesi foto bersama.

Arsitektur UII Kirimkan Delegasi IGDW 2018 di Wismar Jerman

“Syukur Alhamdulillah seusai seleksi yang telah kami lewati, Program Studi Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) memberikan kami berlima kesempatan untuk mengikuti acara International Green Design Workshop (IGDW) 2018 di Wismar, Jerman.”ungkap Kartikya salah satu dari lima mahasiswa delegasi UII. Pada pelepasan mahasiswa pada Jumat  25 Mei 2018, di Ruang Sidang Utama Lt.4 Gedung GBPH Prabuningrat Kampus Terpadu UII.

Kami menjadi wakil Asritektur UII dan sebagai satu-satunya universitas dari Indonesia dalam acara tersebut. Delegasi dari UII ini terdiri dari Kartikya Ishlah Utami, Siti Eltsany Shofya Umari, Mutia Amelia Febriana, Rafi’ Farhan Fahrurrozi, dan Nadya Putri Azzura serta satu pendamping dari dosen Arsitektur Wisnu Hendrawan Bayuaji,,S.T., M.A.

International Green Design Workshop 2018 merupakan workshop internasional yang dilaksanakan di Wismar University dan diikuti oleh empat universitas, yaitu Wismar University, Neubrandburg University, King Mongkut’s University Thailand dan Universitas Islam Indonesia. Workshop tersebut terdiri dari tiga kegiatan utama berupa Introductory Lectures on Green Design, Excursion dan Design Studio yang dilaksanakan pada 29 Mei -10 Juni 2018. Workshop ini berfokus pada green design yang mengusung tema reuse-recycling-upcycling.

Noor Cholis Idham, Ph.D selaku Ketua Prodi Arsitektur menyampaikan bahwa workshop ini adalah salah satu program internasionalisasi Prodi Arsitektur yang mana kemarin kami mengirimkan dua mahasiswa untuk belajar selama satu semester di Fatih Sultan Mehmet University di Turki. Alhamdulillah hari ini kami melepas lima mahasiswa dan satu dosen pembimbing atau mentor pada workshop yang diselenggarakan oleh Wismar University selama 20 hari.

“Kemudian bulan depan setelah hari raya Idul Fitri kami mengirimkan tiga puluh mahasiswa dan tiga dosen untuk program Summer School dengan Fatih Sultan Mehmet University yang mana progam kerjasama ini untuk keenam kalinya. Program internasionalisasi ini kami tekankan supaya memberikan pemacu mahasiswa untuk bisa berkolaborasi atau bersaing dalam ajang kompetisi dikancah internasional.”ungkap Noor Cholis.

Sementara Wakil Rektor III Ir. Agus Taufiq, M.Sc. menyampaikan bahwa program ini aktifitas yang luar biasa sebagai konsekuensi dari akreditasi internasional yang dimiliki Arsitektur,sehingga tantangan akan terus mengalir dan harus dipersiapkan. Agus Taufiq memberikan apresiasi terutama untuk mahasiswa menjadi duta yang dikirim oleh Prodi untuk workshop di Wismar University.

Agus Taufiq berpesan agar selama mengikuti program mahasiswa UII dapat membawa budaya atau tradisi Indonesia, seperti menari, menunjukkan kuliner lokal, atau setidaknya memakai batik. “Hal-hal semacam itu akan lebih mengakrabkan dan perkenalkanlah UII”, tuturnya.

Mahasiswa Arsitektur mengikuti Konferensi Internasional di Venice, Itali

(Mahasiswa Arsitektur berfoto bersama CEO S.Arch – Mrs. Marina Stosic) 

Alhamdullilah beberapa mahasiswa Arsitektur mengikuti S.Arch: 5th International Conference on Architecture & Built Environment + AWARDS yang diselenggarakan di Venice, Italy pada tanggal 22 – 24 Mei 2018. Mahasiswa tersebut adalah Ridho Pawenang, Bintang Lazuardi, Pelangi Desias dan Annisa Ramadhani Putri. 

S.Arch tahun 2018 merupakan konferensi tingkat internasional mengenai Architecture & Bulit Environment dengan subtema Budaya, Bangunan Masa Depan dan Ruang Terbuka Hijau, Urban dan Sosial, Design Bangunan dan Fasad. S. Arch dilaksanakan rutin setiap 1 tahun sekali. S. Arch adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat dan global yang mempunyai anggota pakar interdisiplin dari seluruh dunia. S.Arch bertujuan untuk menyatukan arsitek di seluruh dunia tanpa adanya diskriminasi. S.Arch 2018 menjadi suatu forum bagi para peneliti, praktisi dan pendidik interdisipliner dan multidisipliner untuk menyajikan dan membahas inovasi terbaru, tren dan permasalahan, tantangan praktis yang dihadapi dna solusi yang diterapkan dalam bidang Arsitektur Budaya, Bangunan Masa Depan dan Ruang Terbuka Hijau, Urban dan Sosial, Design Bangunan dan lain-lain. 

S.Arch tahun ini mengambil lokasi di Venice, tempat dimana kemajuan Arsitektur Budaya, Bangunan Bersejarah dan Perkembangan Urban sangat berkembang pesat. Sesuai dengan tujuan S.Arch yaitu menjadi tempat pertemuan untuk diskusi dan berbagi ide, sebuah tempat dimana ide-ide dilahirkan dan pelajaran berharga.  

PPAr Kembali Cetak 26 Arsitek Muda

Sejalan dengan target Pemerintah di tahun 2018 ini, yaitu Peningkatan Sumber Daya Manusia, maka Pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR menindaklanjuti dengan melakukan berbagai upaya mencetak tenaga kerja konstruksi berkualitas, baik terampil maupun ahli. Arsitek, sebagai salah satu bagian tenaga ahli konstruksi, memerlukan dorongan dan upaya agar jumlahnya di Indonesia meningkat. Saat ini, jumlah Arsitek masih relatif kecil yakni sekitar 12.000, dibandingkan kebutuhan untuk mendukung percepatan pembangunan Infrastruktur.

“Langkah yang tepat dan cepat untuk mencetak arsitektur muda yang memiliki kompetensi yang berkualitas adalah dengan melakukan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan” demikian disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Yaya Supriyatna pada acara pembekalan calon Arsitek Muda Universitas Islam Indonesia yang akan dilantik pada Acara Sumpah Profesi Arsitek Progam Studi Pendidikan Profesi Arsitek Universitas Islam Indonesia di Auditorium Gd. Moh. Natsir Kampus Terpadu UII, Kamis 18 Rajab 1439 H / 5 April 2018.

Yaya menambahkan bahwa peran dari seorang Arsitek sangatlah penting, pasalnya perencanaan pembangunan infrastruktur atau bangunan dikerjakan oleh arsitek. Ditambah saat ini Kementerian PUPR sedang gencar melaksakan pembangunan strategis seperti, jembatan, bendungan, bangunan gedung serta infrastruktur lainnya yang memerlukan kontribusi besar dari seorang Arsitek.

Kepada 26 arsitek muda yang telah mengikrarkan sumpah profesi, Yaya juga mengingatkan agar selalu menjaga kode etik tentang arsitek dalam melakukan kiprahnya di dunia kerja nanti, serta memberikan inovasi yang terbaik dalam setiap karya konstruksi. “Dunia konstruksi itu saat ini menjadi sektor paling seksi, dan mempunyai nilai yang besar bagi bangsa. Jadilah Arsitek Muda yang mempunyai kompetensi baik untuk dapat meningkatkan kiprah di dunia konstruksi tanah air” tambah Yaya.

Sementara itu Rektor Universitas Islam Indonesia, Nandang Sutrisno mengatakan kepada para arsitek baru untuk tidak lupa akan sumpah profesi yang sudah diucapkan, dan selalu membawanya kemanapun dan kapanpun. Selain itu, kepada ke-26 arsitek baru ia juga mengingatkan untuk selalu berpegang teguh pada etika profesi.

Nandang Sutrisno juga menyinggung tantangan yang akan dihadapi oleh para arsitek Indonesia belakangan ini. Tantangan ini sekaligus menjadi kesempatan yang bagus untuk para arsitek muda. “Karena kita sekarang sudah memasuki Asean Economic Community, peluang Arsitek Indonesia akan menjadi lebih besar untuk berkarya di luar Indonesia, namun yang harus diwaspadai oleh para arsitek yaitu mereka harus mampu bersaing secara ketat dengan para arsitek dari luar Indonesia yang juga ingin berkarya di Indonesia.” Pungkasnya

Mahasiswa Arsitektur Borong Penghargaan BCI ASIA AWARD 2018

FuturArc Prize BCI ASIA AWARD 2018, merupakan lomba desain Arsitektur internasional yang setiap tahunnya diikuti oleh ratusan peserta yang merupakan mahasiswa dan pelaku professional dari negara-negara di dunia khususnya di area Asia-Pasifik. Tujuan kompetisi ini adalah untuk mengembangkan pemikiran dan ide perancangan yang inovatif serta menciptakan ide tentang gagasan dan rancangan desain arsitektur dan bangunan hijau dalam skala urban.

Bertempat di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, pada Selasa 2 Sya’ban 1439 H / 18 April 2018, 3 kelompok yang terdiri dari mahasiswa dan alumni prodi arsitektur UII menerima penghargaan bergengsi Merit Citation Award dalam FUTURARC. FUTURARC 2018 ini tema yang diambil adalah “IMAGINE A CITY OF BIOPHILIC DELIGHT”. Peserta ditantang untuk mendesain sebuah ide solusi menata suatu Kawasan dalam skala urban dengan luas 1km x 1 km agar Kawasan dapat berkelanjutan serta kota ini dapat tumbuh berdampingan dengan alam.  

Menurut Yushna Septian Adyarta salah satu alumni Arsitektur UII dengan diadakanya sayembara ini menjadi wadah untuk mahasiswa, arsitek dan peneliti Indonesia untuk terus berinovasi dan berkarya dalam menuangkan ide-ide dan gagasannya untuk membangun bangsa dan kawasan yang berkelanjutan.

“Alhamdulillah tahun ini Arsitektur Universitas Islam Indonesia memborong tiga penghargaan di ajang FUTURARC Competition. Meskipun dapet Citation Merit Award, kami bisa kembali mewakili Arsitektur UII dilevel Internasional.” Ungakap Yushna. Dan dia berharap semoga bisa menginspirasi yg lain untuk ikut berpartisipasi, semoga tahun depan bisa lebih baik lagi.

Untuk  2 grup yang  berhasil mendapatkan penghargaan Merit Citation Award Student Category dalam FUTURARC ini yakni kelompok 1. Alim Hanafi (Ars’14), Rhizky Annisa Ridyna Gunaedi (Ars’15), Dida Laily Chairunnisa (Ars’15), Mutia Muyasarah (Ars’15),Intan Widiyanti Utami (Ars’15) dan kelompok 2, Satria Agung Permana (Ars’14), Yushna Septian Adyarta (Ars’13), Intan Dwi Septiana (Ars’15), Muhammad Hardyan Prastyanto (Ars’13). Sementara 1 grup mendapatkan Merit Award Profesional Category, Arif Rasipu Arif (Ars’11), Muhammad Giffarul Asrori (Ars’14), Wan Habib F (Ars’12), Peda Bayu (Ars’12), Kartikya Ishlah U (Ars’14).

Universitas Muhammadiyah Surakarta Kunjungi MArs UII

Jumat 23 Maret 2018 Fakultas Magister Arsitektur Universitas Islam Indonesia (MArs UII) menerima kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kunjungan yang diterima oleh Ketua Program Magister Arsitektur Ir. Suparwoko, MURP., Ph.D dan Ketua Prodi Arsitektur Noor Cholis Idham, Ph.D. Bertempat di Ruang Sidang Dekanat Lantai 2 Gedung Moh. Natsir Kampus Terpadu.


Maksud kunjungan UMS di FTSP UII ingin mengetahui lebih dalam dengan persiapan dan pembukaan Magister Arsitektur dan juga kurikulum yang telah berjalan di Prodi Arsitektur dan MArs.
Menurut Suparwoko dalam sambutannya, “secara garis besar dalam pembukaan Program Studi diperlukan sembilan kriteria yang mewadahi, Visi Misi, Tata Kelola, Mahasiswa dan Lulusan, Sumber Daya Manusia, Kurikulum, Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat, Prasarana dan Sarana, serta Keuangan.” Ke-sembilan kriteria yang menjadi tolak ukur adalah krireria lima mengenai kurikulum. Kata kunci tingkat kemampuan kerja dalam diskripsi KKNI masuk ke dalam level delapan mengembangkan IPTEKS melalui riset intern atau multi disiplin, inovasi, dan teruji.