Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan kegiatan rutin Program Studi untuk membantu mengembangkan imajinasi, kreatifitas, dan daya bayang ruang mahasiswa arsitektur. Kegiatan ini berupa peninjauan langsung mahasiswa ke objek studi baik yang ada di dalam maupun luar negeri . Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala. Kali ini Prodi Arsitektur merencanakan kunjungan kebeberapa tempat di Cirebon yang memang dirasa tepat untuk mata kuliah Arsitektur Indonesia.

Mata kuliah Arsitektur Indonesia adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII. Ditempuh pada semester genap ditiap tahun ajaran, dan Kuliah Kerja Lapangan sebagai syarat wajib untuk mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Arsitektur Indonesia. Tentunya ada beberapa tugas mahasiswa pada KKL kali ini seperti mengumpulkan informasi, memotret (interior, eksterior, aktivitas, konstruksi, ornamen dsb.), menggambar, mengukur, sketsa, menulis dan menyajikan/mempresentasikan hasil KKL di Cirebon pada dosen kelas.

Rombongan KKL yang terdiri dari Mahasiswa Arsitektur UII yang berjumlah 90 mahasiswa dan 2 dosen yakni Revianto Budi Santosa Ir.,M.Arch. dan Arif Budi Sholihah ,S.T., M.Sc., Ph.D. melaksanakan kunjungan pada Senin, 25 – 28 Rajab 1437H/ 2 – 5 Mei 2016. Beberapa tempat tujuan KKL pada hari pertama seperti Masjid Merah Panjunan, Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman, Masjid Agung Kasepuhan dan Taman Sari Gua Sunyarangi. Hari kedua rombongan mengunjungi Balaikota Cirebon, Stasiun Cirebon, Klenteng Dewi Welas Asih, dan Makam Trusmi.

Masjid Panjunan terletak dikampung Arab dekat Pelabuhan Cirebon, masyarakat setempat yakin bahwa masjid yang didirikan Pangeran Panjunan yang diriwayatkan berasal dari Arabia ini lebih tua dari kraton Kasepuhan. Serambi dengan tiang berprofil segi delapan di tengah dan segi empat di kedua ujungnya adalah bagian dari tradisi yang sangat tua yang lazim dijumpai pada bangunan-bangunan yang dimuliakan di Pesisir Utara Jawa bahkan hingga ke Bali. Pembukaan Revianto Budi Santosa untuk Masjid Panjunan kepada mahasiswa Arsitektur yang mengikuti KKL tersebut.

Keunikan terdapat pada Masjid-masjid masa lampau, seperti halnya Masjid Panjunan. Keseluruhan dinding terbuat dari batu bata merah dengan pengerjaan yang sangat baik diperkuat dengan cat merah pada seluruh permukaan masjid, sehingga masjid ini sering disebut Masjid Merah. Nama Panjunan sendiri menunjukkan bahwa kawasan ini semula dihuni oleh para pembuat wadah air dari tanah liat atau ajun. Hal tersebut menujukkan bahwa kualiatas tanah disini sangatlah bagus. Disisi selatan Masjid ini terdapat nisan yang sangat pendek, hanya sekitar satu meter. Yang dikatakan sebagai tempat untuk menguburkan alat-alat pertukangan yang pernah dipergunakan untuk membangun Masjid ini. Hal demikian ungkapan unik untuk memuliakan tradisi ketukangan penduduk setempat.

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *