Architecture Alumnus Speech on the 5th Graduation Day 2016

Figure: Herman Nigata as Alumni Representation on Graduation Preparation with Rector Dr. Harsoyo (center) and Head of Architecture Department Dr. Noor Cholis Idham (left)

Herman Nigata Neman, one of the first alumni of Departmen Architecture was giving speech in the 5th Graduation Day 2016. He was chooses among thousands of alumni to represent the department graduated who has bright professional career in the field. After graduated as Sarjana Teknik or Engineer in Architecture in 1993 he was recruited by Multinational Corporation and sent him abroad to take his postgraduate study in DELF Institute Netherlands and CAMDEN New Jersey USA.  He spent 3 years for his career in Netherlands and 10 years in France. Later on, he manage a national company in Jakarta.

On his speech, Nigata told that the students now has more far advantage compare to his time where almost everything was limited. He could work and enjoy multinational environment from hard work and discipline. He believe that all skills and education of graduated students of UII are more than enough to be have bright career in the future. He also stated that the value of Islam in UII education system has an important role to perform great individual morale which is needed in nowadays professional life. For this reason, moral perfection is more important; people may make mistake but he or she must be honest. Only by that way, the ideal future development may achieved.

 

-NCI

B.ARCH GRADUATION DAY: WISUDA PERIODE V 4 JUNI 2016

13 students Department of Architecture are graduated as bachelor in architecture on Saturday June 4th on the fifth Graduation Day 2016 in Kahar Muzakir Auditorium UII. Three of them are graduated by cumlaude with excellent Grade Point Average (GPA) more than 3.5. The new bachelor in architecture or Sarjana Arsitektur (S.Ars) are:

  1. Anindyajati Parahita Inggitanjnya (11512119)
  2. Dara Asri Widyaningrum (11512176)
  3. Wahdanisa Aprilika (11512277) (cumlaude)
  4. Ria Annawati Ritonga (11512301)
  5. Artwira Mahatavirya Satiagasty Djojodibroto (08512078)
  6. Hebat Hidayat (08512144)
  7. Arif Adi Putranto (10512006)
  8. Mursalim (10512084)
  9. Septian Eka Prayoga (11512020)
  10. Jainal Arifin (11512141)
  11. Febrianta Rahmat Agug Saputra (11512143) (cumlaude)
  12. Beny Bali Prabowo (11512208) (cumlaude)
  13. Ashari (11512233)

 

 Congratulation!

Architecture UII Goes to Bali: Belajar Hidup dari Tanah yang Hidup

Dilaksanakan pada tanggal 3 – 7 Mei 2016, mahasiswa dapat merasakan bagaimana Arsitektur Bali bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Seribu Pura ini. Tata ruang dan kota yang diatur oleh peraturan adat membuat Arsitektur Bali terasa sangat khas. Dipimpin oleh Bapak Ir. Priyo Pratikno, MT dan didampingi oleh Ibu Ir. Rini Darmawati, MT dan Ibu Yulia Pratiwi, ST., M.Eng, rombongan mengunjungi beberapa lokasi KKL diantaranya adalah Museum Bali, Jurusan Arsitektur Universitas Udayana, Uluwatu Temple, Garuda Wisnu Kencana, Goa Gajah, dan Tanah Lot. Namun yang paling menarik sebagai bahan pembelajaran adalah Desa adat Tenganan yang terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, di sebelah timur Pulau Bali.

Desa Tenganan merupakan desa adat tua yang dihuni oleh Suku Bali Aga, yaitu desa yang masih mempertahankan pola hidup dan masyarakatnya sesuai dengan aturan adat tradisional yang diturunkan oleh nenek moyang. Selain pola hidup dan kemasyarakatan, aturan adat juga mengatur tata ruang dan bangunan di desa ini. Itu sebabnya kita bisa melihat arsitektur Bali yang sesuangguhnya disini.

Desa Tenganan yang ditata linier membentuk hierarki antara rumah ibadah dan rumah tinggal. Poros utama di pusat desa diisi oleh bangunan-bangunan suci yang biasa digunakan untuk ritual adat dan upacara. Poros kedua dan ketiga yang berada di kanan kiri poros utama diisi oleh rumah-rumah yang diatur sesuai ketentuan adat. Rumah-rumah di desa Tenganan menghadap ke arah jalan, dengan bagian belakang yang saling memunggungi

 


Pada kesempatan ini Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, MT, IAI yang menemani rombongan menceritakan bahwa tata kemasyarakatan di desa Tenganan juga mempengaruhi sistem spasial desa. Anak yang sudah menikah harus segera meninggalkan rumah keluarganya. Desa menyediakan tanah untuk membangun rumah, dan memperbolehkan menebang maksimal tiga pohon untuk material bangunan. “Pohon yang boleh ditebang adalah pohon yang nyaris kering, tidak boleh yang sedang rindang. Hanya boleh tiga. Lebih dari itu dianggap mencuri, dan pelakunya tidak boleh tinggal di dalam desa, harus di sisi luar Desa Tenganan,” tambah Professor Wayan untuk menekankan bahwa masyarakat Desa Tenganan sangat memperhatikan kehidupan lingkungan di sekitar mereka.

Seperti rumah Bali lainnya, rumah di Desa Adat Tenganan juga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: pondasi sebagai kaki, dinding tegakan sebagai badan, dan atap kepala. Tidak ada aturan material khusus untuk bagian kaki dan badan, namun ada larangan untuk menggunakan alang-alang sebagai material atap. Sebagian besar atap menggunakan ijuk.

Kaki, badan dan kepala dalam arsitektur Bali menggambarkan bangunan rumah sebagai manusia. Setiap kali pembangunan selesai akan dilaksanakan upacara khusus sebagai tanda bahwa bangunan sudah lengkap tubuhnya dan berjiwa. Rumah dalam Arsitektur Bali tidak pernah dilepaskan dari inti ajaran dalam berkeluarga dan berketuhanan. Mulai dari tumbuh bersama keluarga, memasak, berdoa, dan aktivitas lainnya, dilakukan di dalam rumah. Selayaknya penghuni, rumah dan bangunan di Bali juga diperlakukan sebagaimana yang memiliki jiwa dan hidup berdampingan dengan manusia. Dari perjalanan ke Desa Tenganan ini kita dapat mempelajari bahwa membangun bangunan adalah menciptakan dan memelihara kehidupan.

Banyak hal yang dapat dipelajari ketika kita mendatangi suatu tempat, yang tentu saja tidak semuanya bisa kita temukan di dalam buku. Berada di Bali adalah merasakan Bali. Belajar arsitektur Bali adalah merasakan nilai-nilai yang berpadu dalam ruang-ruang yang tercipta disana. Bali mewujudkan Arsitektur sebagai manifestasi manusia yang hidup dalam harmoni dengan Tuhannya. Seandainya kita mampu memahami ini, ber-Arsitektur tentu lebih dari membangun bangunan, namun menghidupkan sebuah kehidupan, serta memelihara apa yang diberikan oleh Tuhan.Nani Susiani. Foto oleh Rizqi Bagaskara

Parametric Timber Gridshell Workshop

 

UII PARAMETRIC TIMBER GRIDSHELL WORKSHOP

May 15th – 24 th 2016

E:\jars\Parametric\DSC_0023_2.JPG

E:\jars\Parametric\DSC_0024_2.JPG

E:\jars\Parametric\DSC_0030_1.JPG

Department of Architecture just recently held a national workshop called “Parametric Timber Gridshell Workshop”. This event was organized by Digital Architecture Laboratory and Building Science and Technology Laboratory. According to the organizing committee coordinator, Dr. Yulianto Prihatmaji, this event is held in order to give better understanding participants about how parametric is working on real word. Lead by Syarifah Ismailiah Alathas, the head or Digital Architecture laboratory, the principle of parameteric is utilized trough the workshop by the participants and later on, they have to build the big scale models. This event was followed by UII students and other universities students. On May 24, the result of the workshop; two big sacle models were published in UII main boulevard opened by the Head of Department of Architecture Dr. Noor Cholis Idham and Rini Darmawati the Department secretary, and speech by Chairman of Architect Chamber of Yogyakarta Province Ahmad Saifudin Muttaqi, IAI.

According to the head of department, this event is as a part of department effort to increase the quality in architecture education. Architecture Department UII has many collaboration both with domestic and international  institutions. Summer Camp, Summer School, Winter School, International workshop and seminar, and also International accreditation are the ways to increase the quality toward the UII excellent architecture education.

Kuliah Umum Kode Etik Keprofesian Arsitek IAI

Pendidikan Profesi Arsitek Jurusan Arsitektur FTSP UII dengan Ikatan Arsitek Indonesia D.I. Yogyakarta kembali mengadakan kerjasama yaitu dalam rangka Penataran Kode Etik, Strata 1 dan 2 IAI untuk mahasiswa Angkatan IV periode 2015/2016. Dari rangkaian tersebut, kami mengundang mahasiswa dan alumni Arsitektur UII untuk ikut dalam Kuliah Umum  Kode Etik Keprofesian Arsitek IAI dengan tema “ Tantangan Menegakkan Etika Profesi dalam Kompetisi antar Arsitek” dengan narasumber Ahmad Saifudin Mutaqi, IAI (Ketua IAI DIY). Acara ini akan diselenggarakan pada hari Selasa, 31 Mei 2016 pukul 08.00 – 10.15 WIB di Ruang Auditorium Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Selain mahasiswa dan alumni UII, kami juga mengundang  perwakilan dari Jurusan Arsitektur yang ada di Yogyakarta seperti UGM, UAJY, UKDW dan UTY. Untuk konfirmasi  dapat dilakukan langsung di Sekretariat PPAr UII atau dengan menghubungi ke 0877-3932-0473. Salam Arsitek.

MAHASISWA ARSITEKTUR KKL DI KOTA CIREBON

 

 

 

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan kegiatan rutin Program Studi untuk membantu mengembangkan imajinasi, kreatifitas, dan daya bayang ruang mahasiswa arsitektur. Kegiatan ini berupa peninjauan langsung mahasiswa ke objek studi baik yang ada di dalam maupun luar negeri . Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala. Kali ini Prodi Arsitektur merencanakan kunjungan kebeberapa tempat di Cirebon yang memang dirasa tepat untuk mata kuliah Arsitektur Indonesia.

Mata kuliah Arsitektur Indonesia adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII. Ditempuh pada semester genap ditiap tahun ajaran, dan Kuliah Kerja Lapangan sebagai syarat wajib untuk mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Arsitektur Indonesia. Tentunya ada beberapa tugas mahasiswa pada KKL kali ini seperti mengumpulkan informasi, memotret (interior, eksterior, aktivitas, konstruksi, ornamen dsb.), menggambar, mengukur, sketsa, menulis dan menyajikan/mempresentasikan hasil KKL di Cirebon pada dosen kelas.

Rombongan KKL yang terdiri dari Mahasiswa Arsitektur UII yang berjumlah 90 mahasiswa dan 2 dosen yakni Revianto Budi Santosa Ir.,M.Arch. dan Arif Budi Sholihah ,S.T., M.Sc., Ph.D. melaksanakan kunjungan pada Senin, 25 – 28 Rajab 1437H/ 2 – 5 Mei 2016. Beberapa tempat tujuan KKL pada hari pertama seperti Masjid Merah Panjunan, Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman, Masjid Agung Kasepuhan dan Taman Sari Gua Sunyarangi. Hari kedua rombongan mengunjungi Balaikota Cirebon, Stasiun Cirebon, Klenteng Dewi Welas Asih, dan Makam Trusmi.

Masjid Panjunan terletak dikampung Arab dekat Pelabuhan Cirebon, masyarakat setempat yakin bahwa masjid yang didirikan Pangeran Panjunan yang diriwayatkan berasal dari Arabia ini lebih tua dari kraton Kasepuhan. Serambi dengan tiang berprofil segi delapan di tengah dan segi empat di kedua ujungnya adalah bagian dari tradisi yang sangat tua yang lazim dijumpai pada bangunan-bangunan yang dimuliakan di Pesisir Utara Jawa bahkan hingga ke Bali. Pembukaan Revianto Budi Santosa untuk Masjid Panjunan kepada mahasiswa Arsitektur yang mengikuti KKL tersebut.

Keunikan terdapat pada Masjid-masjid masa lampau, seperti halnya Masjid Panjunan. Keseluruhan dinding terbuat dari batu bata merah dengan pengerjaan yang sangat baik diperkuat dengan cat merah pada seluruh permukaan masjid, sehingga masjid ini sering disebut Masjid Merah. Nama Panjunan sendiri menunjukkan bahwa kawasan ini semula dihuni oleh para pembuat wadah air dari tanah liat atau ajun. Hal tersebut menujukkan bahwa kualiatas tanah disini sangatlah bagus. Disisi selatan Masjid ini terdapat nisan yang sangat pendek, hanya sekitar satu meter. Yang dikatakan sebagai tempat untuk menguburkan alat-alat pertukangan yang pernah dipergunakan untuk membangun Masjid ini. Hal demikian ungkapan unik untuk memuliakan tradisi ketukangan penduduk setempat.

 

 

 

Arsitektur UII bersama LPJK dan IAI Kembali Wisuda dan Lantik 11 Arsitek Professional melalui PPAR

 

Program Pendidikan Profesi Arsitek Program Studi Arsitektur FTSP UII baru saja meluluskan 11 (sebelas) Arsitek Profesional tersertifikasi sebagai ARSITEK MUDA dari IAI/LPJK yang diselenggarakan dalam acara Pengambilan Sumpah Arsitek Angkatan Ke III (Tiga). Kesebelas Arsitek Muda tersebut adalah: Ar. Tanty Kesuma Ayu Iswardhani, S.Ars., IAI, Ar. Nindyra Faiza Fajri, S.Ars., IAI., Ar. Adityanto Tri Prabowo, S.Ars., IAI, Ar. Intan Ayuningtyas, ST, IAI, Ar. Putri Permatasari, S.Ars., IAI, Ar. Zeni Sabrina Anggraini, S.Ars., IAI, Ar. Hindun Khairotun Nadlifah, S.Ars., IAI, Ar. Izazaya Binta, S.Ars., IAI, Ar. Firmanriansyah, S.Ars., IAI, Ar. Onny Dwi Puspa, S.Ars., IAI, dan Ar. Idzmi Darmawan, S.Ars., IAI.  Lulusan Pendidikan Profesi Arsitek ini merupakan lulusan pertama kali di Indonesia yang langsung mendapatkan Sertifikat Keahlian Arsitek Muda dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi D.I.Yogyakarta dan menerima kartu IAI gold.

Acara ini turut serta dihadiri oleh  Noor Cholis Idham, ST., M.Arch, Ph.D, IAI  (Ketua Prodi Arsitektur UII), Ir. Ahmad Saifudin Mutaqi, MT, IAI ( Ketua Program Pendidikan Profesi Arsitek),Setya Winarno Ph.D (Wakil Dekan FTSP UII), Arief Heru Swasono, ST, MTP, IAI (Ketua IAI DIY), Ir. Ilham Purnomo, MT. (Ketua LPJK DIY), Ir. Darma Tyanto Saptodewo, MT, MBA (Perwakilan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional), Ir. Munichy B. Edrees, M.Arch, IAI AA, (Ketua Kehormatan Pengurus Nasional IAI), Ir. Sumardi SM, IAI ( Dewan Keprofesian Arsitek  Ikatan Arsitek Indonesia Nasional), Dr. Ing, Ir., Ilya Fadjar Maharika, MA, IAI (Wakil Rektor I UII) serta Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc (Rektor UII). Adapun Mitra Asosiasi yang hadir yaitu Ir. Dwiaryo Djatmiko (SekJen INKINDO), D. Anas. R.A, IAI, AA (PT Titimatra Tujutama), Lucida, IAI (IAI DIY), Fitri Hadiprabowo, ST (LP2K DIY).

Dalam sambutannya, Ir Darma Tyanto menyampaikan bahwa sudah saatnya profesi teknik di Indonesia siap berhadapan dengan profesi asing yang masuk ke Indonesia. Bahkan sebisa mungkin ahli-ahli Indonesia berani keluar untuk bersaing mengingat kualitas sumber daya manusia Indonesia pada dasarnya mampu untuk itu. Dia berpesan UII dapat terus melanjutkan usaha yang telah dilakukan untuk mempelopori dan semakin banyak menghasilkan tenaga professional termasuk arsitek.

Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc mengatakan pendidikan profesi arsitek sangat relevan untuk mendorong daya saing arsitek Indonesia di kancah global. Sebab ke depan, hanya arsitek yang memiliki lisensi dan sertifikasi profesi yang karyanya dapat diakui secara kredibel di kalangan jasa kontruksi. “UII menjadi pionir lembaga pendidikan di DIY dan Indonesia yang mula-mula menjalankan pendidikan profesi bagi arsitek”, ujarnya. Di DIY sendiri, sampai saat ini UII masih menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang kontinyu menjalankan pendidikan profesi ini.

Ketua Dewan Kehormatan IAI Nasional, Ir. Munichy B. Edrees, M.Arch, IAI juga mengungkapkan keprihatinan atas masih rendahnya jumlah tenaga ahli konstruksi di Indonesia. “Ketika praktik di luar negeri, saya sering prihatin karya-karya hebat arsitek kita di luar sering diatasnamakan arsitek asing karena arsitek kita minim dalam hal sertifikasi dan lisensi profesi yang diakui secara global”, katanya. Dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki UU Arsitek, setelah sebelumnya menerbitkan UU Insinyur.

Kuliah Umum #64 Studio Perancangan Arsitektur 4

#64 KuE! Programme

Wajib bagi mahasiswa STUPA 4 untuk mengikuti Kuliah Umum ini, dengan jadwal yang direncanakan akan dilaksanakan pada Jumat, 1 April 2016. Pukul 13.00 WIB S/D Selesai, bertempat di Ruang Auditorium Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Lt.3.

Mahasiswa Arsitektur Pentaskan “ARIADNE” di Taman Budaya

Mengawali kegiatan akademik Semester Genap 2015/2016, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Program Studi Arsitektur Universitas Islam Indonesia menggelar pertunjukan teater berjudul “ARIADNE”  pada Jumat, 24 Jumadil-Awwal 1437 H / 4 Maret 2016. Pentas teater yang digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta dan dihadiri sekitar 200 penonton. Tampak hadir beberapa dosen arsitektur pada acara ini SekProdi Arsitektur, Ir. Rini Darmawati, MT. dan Syarifah Ismailiyah Al Athas ,ST., MT.

Pentas ini begitu istimewa karena naskah yang dipilih merupakan naskah yang dianggap sakral, karena terus menerus mengalami penundaan untuk dipentaskan pada tiap kepengurusannya. Naskah “ARIADNE” adalah tulisan dari Hella S. Hasse (1918 – 2011) sastrawan dari belanda, yang menceritakan cerita rakyat Yunani tentang dewa Minotaurus yang sedikit dipuntir oleh beliau. Bersudut pandang dari putri sulung raja kreta yang bernama Ariadne, sifatnya yang keras dan kritis berujung pada pertanyaan kenapa ayahnya menguasai rakyat dan bahkan negara lain dengan suatu kebohongan yang cerdik, yaitu menciptakan sebuah mitos dewa yang bernama Minotaurus. Raja kreta bahkan mengharuskan dikirimnya korban manusia kedalam gua, konon tempat tinggalnya Minotaurus agar kebohongan yang ia buat menjadi terlihat nyata.

Army Wiratama selaku sutradara mengatakan “Naskah Ariadne adalah naskah sulit, selain durasi yang mencapai 2,5 jam penggunaan kosakata di era 1950an menjadi pertimbangan untuk dipentaskan.” Memang beberapa dialog penting di naskah lalu disampaikan secara musikalisasi dan menggunakan simbol – simbol agar mengurangi kejenuhan kata. Adegan terakhir contohnya, saat ariadne ditinggalkan sendirian disebuah pulau oleh saudari dan suaminya karena ia mengejar kebenaran, disampaikan melalui sebuah musikalisasi puisi yang dinyanyikan langsung oleh sang aktor.
Selain itu yang membuat pentas ini istimewa adalah kolaborasi dari seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) jurusan Arsitektur. Edi Jaka Pasaribu selaku Ketua Tim Produksi dan Ketua 7 garit yang ke 12 mengungkapkan bahwa memang langka kesempatan untuk semua UKM melebur jadi satu, SAKAREPE creative percussion, Komunitas Musik Arsitektur (KMA), Komunitas Fotografi  dan sinematografi (KOSFORMAT) dan Installation Art.

Arsitektur UII Berinovasi dan Berkarya dengan ATM

 

 

 

Sesuai dengan visi prodi Arsitektur UII, mewujudkan Program Studi Arsitektur UII sebagai institusi yang memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan binaan yang tanggap terhadap pemberdayaan masyarakat dan pelestarian fungsi lingkungan, melalui kegiatan pendidikan arsitektur yang mempunyai tradisi perancangan yang koheren untuk kepentingan pengguna dan lingkungan, inovatif, pada hari yang cerah Sabtu – Minggu 4 – 5 Jumadil-Awwal 1437 H / 13 – 14 Februari 2016 Dr. Yulianto P. Prihatmaji, ST., MT. membawa mahasiswa bimbingannya ke desa mitra program pengabdian masyarakat yakni kawasan kebun teh dusun Nglinggo Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo.

Disamping kegiatan ini menjembatani mahasiswa sebagai insane peneliti juga pengabdi masyarakat, bermanfaat juga bisa bertemu dengan pemuda dan tokoh masyarakat setempat mendengarkan aspirasi mereka, dan berusaha memberikan solusi di masyarakat. Disamping juga memperkenalkan mahasiswa secara langsung situasi masyarakat yang sebenarnya sehingga kelak bisa dengan mudah beradaptasi di lingkungan masyarakat secara nyata. Yulianto P. Prihatmaji memberikan satu metoda pembelajaran di lapangan dengan istilah ATM yakni Amati-Tiru-Modifikasi, artinya dalam menghadapi permasalahan tahap awal adalah diamati dengan disiplin ilmu sebagai pe-research, selanjutnya mencari referensi permasalahan yang ada dan solusinya, ditiru metodanya namun harus dimodifikasi sesuai kearifan permasalahan yang ada.

Tidak lupa kegiatan ini dilengkapi dengan menikmati hamparan hijau nan sejuk di kawasan kebun teh dusun Nglinggo Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo dengan dilatarbelakangi bentangan empat  gunung Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing plus gunung Andong, di tengah view tersaput kabut tipis siluet stupa, candi Borobudur. Tidaklah lengkap rombongan bersama Tim 4×4 Off-Road menikmati selama 3.5 jam menikmati menembus hutan, menggerus bebatuan dan menikmati hutan pinus di perbatasan Kulonprogo dan Purworejo, menenggak segarnya air terjun dan  diakhiri doa bersama, bagi mahasiswa peserta kuliah lapangan sekiranya semester ini menapaki karir belajar yang gilang gemilang. Kegiatan ini diacungi jempol oleh mahasiswa peserta program antara lain Gustafian Dewantara, Pungky Hernawan, Wazid Kautsar, Yushna Septian A, Lu’luil Ma’nun, Aisha Amrullah, Fernaldi Saputra, Palidya Hartinah, Muhammad Wildan, Avik Rusyda Kepik, Edi Jaka Saputra Pasaribu, Nida Fauziyah W, mereka ini adalah mahasiswa-mahasiswa bimbingan dosen prodi Arsitektur UII Dr. Yulianto P. Prihatmaji, ST., MT.
Harapan terbesar dari Yulianto P. Prihatmaji, seperti misi prodi Arsitektur UII, yakni terwujudnya sarjana arsitektur yang memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan binaan yang tanggap terhadap kaum dhuafa dan bersifat berkelanjutan, sekaligus menyiapkan sarjana arsitektur yang memiliki keunggulan spesifik melalui proses akademik berbasis budaya studio yang mengintegrasikan nilai ahlak berupa sensitifitas terhadap pengguna dan lingkungannya, keberanian berinovasi dalam segala medan dan mendedikasikan diri untuk mengejar kesempurnaan karya melalui pengembangan proses merancang yang cermat, berbasis kajian yang mendalam dan menyajikannya dengan kualitas yang tinggi. Amiin.