INILAH.COM, Jakarta – Perkembangan pembangunan di kawasan perkotaan kini menuntut dukungan arsitektur hijau. Tren itu kini berkembang di hampir setiap perkotaan yang ada di dunia. Perkembangan arsitektur dalam eco-design semakin kuat pasca tahun 1990-an. Sebelumnya, pemahaman konsep arsitektur hijau tersebut belum menjadi fokus perhatian di kalangan arsitek dunia. Dalam konsep arsitektur hijau ini, fokus utamanya adalah penghematan penggunaan energi dalam bangunan. Selain itu, adanya kesadaran bahwa banyak ancaman dalam sebuah bangunan yang bisa memicu gangguan kesehatan pada penghuni. Praktisi arsitektur Mauro Purnomo Rahardjo, mengatakan beragam hasil penelitian yang merujuk pada keluhan akan kesehatan akibat kesalahan dalam desain arsitektur.

“Pemakai bangunan banyak yang mudah terkena flu, menderita akibat pengaruh polusi udara, baik di dalam hunian maupun di lokasi kerja. Arsitektur di sekeliling kita dipenuhi bahan beracun yang bisa menimbulkan penyakit,” kata Mauro, dalam diskusi tentang Arsitektur Hijau dan Feng Shui, akhir pekan lalu di Jakarta.

 

Studi tentang emisi yang dikeluarkan oleh pabrikan bahan bangunan di California, Amerika Serikat, menunjukkan sejumlah bahan ‘hijau’ mengandung kadar emisi lebih rendah. Tapi, beberapa bahan bangunan konvensional bahkan memiliki kandungan emisi lebiih rendah.

 

Sejumlah material bangunan yang mengandung bahan beracun antara lain plywood dan pressboard yang mengandung formaldehid. Insulasi dengan fiberglass diketahui mampu memacu pertumbuhan sel-sel kanker pada paru-paru. Hal ini sama dengan dampak yang diberikan oleh asbestos.

 

“Bisa disimpulkan, dari riset tersebut bahwa bahan bangunan alami memberikan alternatif paling bagus untuk kesehatan manusia,” ucap pakar dari Feng Shui School Indonesia itu.

 

Feng shui sebagai salah satu bidang ilmu lumayan lawas, telah meletakkan dasar-dasar penataan lingkungan yang serasi dan mengikuti alam. “Tidak bisa dimungkiri, para pengguna feng shui telah menikmati hidup lebih sehat. Mereka telah menikmati kemakmuran serta kebagahiaan. Ini karena alam sebagai paradigma adalah hal yang menjadi fokus dalam ilmu Feng Shui,” kata dia.

 

Konsep tradisional dalam Feng Shui memberikan panutan bagi tematik kembali ke alam, hemat energi, serta arsitektur hijau. Ilmu ini menganjurkan perbaikan pada sistem bangunan yang menjamin kesejahteraan bagi penghuni.

 

Kendati pendekatan dalam arsitektur hijau menyerupai prinsip-prinsip yang terkandung dalam Feng Shui. Prinsip Feng Shui memperhatikan aspek kejiwaan manusia dengan memeprhitungkan energi sekitar maupun yang ada di dalam tubuh manusia.

 

Pakar Feng Shui Mas Dian, mengatakan mempelajari ilmu itu secara tidak langsung menghayati ekosistem kehidupan antara manusia dengan alam. “Memahami ilmu ini bisa berarti mengerti dampak dari kegiatan pembangunan terhadap fungsi ekologis alam sekitarnya. Sayangnya, masih banyak anggapan publik bahwa ilmu ini identik dengan unsur mistik,” tandasnya.

 

Di sisi lain, Mauro melanjutkan, ciri arsitektur hijau antara lain, adanya sistem sirkulasi udara yang dirancang efisien baik untuk pemanasan maupun pendinginan ruang. Pemakaian pencahayaan dengan sumber energi yang efisien, serta penggunaan bahan bangunan yang non sintetis serta non toxic. Efisiensi ruangan juga menjadi fokus perhatian dalam ilmu ini.

 

“Tujuan utama arsitektur hijau adalah menciptakan eco-design, arsitektur ramah lingkungan, serta arsitektur alami dengan konsep pembangunan berkelanjutan,” kata dia.

 

Ironisnya, kata dia, banyak dari bangunan saat ini kerap melalaikan aspek kesehatan penghuni. Misalnya, sistem pemanasan atau pendinginan ruangan yang justru memacu pertumbuhan dan penyebaran virus penyebab penyakit influenza atau alergi.

 

Penggunaan bahan pengawet berkandungan kimiwai seperti cat, kayu, dan bahan bangunan lainnya yang menguapkan racun. Selain itu, penambahan bahan sintetis yang diproduksi secara massal dan bahan konstruksi komposit ternyata menimbulkan sakit kepala dan depresi bagi penghuni.

 

“Arsitektur hijau memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti pemakaian eneri sinar matahari melalui passice solar dan active solar. Selain itu, konsep arsitektur hijau ini juga memakai teknik photovoltaic seperti penambahan tanaman serta pohon melalui atap hijau dan taman hujan,” pungkasnya. [P1]

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *